Bahagiakan Pengguna Ponsel Pintar

Target jangka pendek ialah perseroan masuk tiga besar aplikasi instant messenger pada 2015.
LAYANAN kirim pesan gratis (instant messenger) kini telah men jadi bisnis besar seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia. Buktinya perusahaanperusahaan teknologi digital terus berlomba-lomba menciptakan dan mengembangkan aplikasi instant messenger terbaru.

Salah satu aplikasi yang kini mencuri perhatian ialah Jongla.Dengan mengandalkan inovasi stiker bergerak dan interaktif, aplikasi obrolan (chatting) itu masuk ke pasar industri teknologi digital di Tanah Air yang telah digarap aplikasi sejenis seperti Whatsapp, BBM, Line, dan Wechat.

“Aplikasi Jongla bisa lebih menyesuaikan pada keinginan pasar, tetapi tetap berbeda dengan aplikasi pesan singkat lainnya. Aplikasi ini dibuat untuk membuat orang tersenyum,“ ujar Chief Executive Officer (CEO) of Jongla Ltd Riku Salminen yang mengenakan kemeja putih, celana jins, dan jas hitam saat ditemui Media Indonesia di Jakarta, Rabu (5/11) lalu.
Pengusaha muda yang baru berusia 40 tahun itu mengungkapkan penuh tantangannya membangun bisnis layanan digital di sini. Meski besarnya peluang seiringan dengan luasnya konektivitas penggunaan internet, masyarakat dinilai kritis terhadap teknologi. Mereka mengunduh aplikasi pada ponsel cerdas sesuai dengan kebutuhan. Apalagi, telah bermun culan ragam aplikasi instant messenger.

Di sisi lain, perseroan yang dibangun pada 2009 itu baru berekspansi ke kawasan Asia Tenggara. Dengan kata lain, perusahaan asal Finlandia itu dapat dikatakan pemain baru di industri digital di sini.
Namun, cita-cita untuk membangun aplikasi pesan singkat yang inovatif dan menyenangkan membangkitkan semangatnya. Hal itulah yang membuat proses pembangunan aplikasi sekaligus perusahaan tersebut pun dirasa sangat menyenangkan.
“We built Jongla as a family,“ ujar Riku, panggilan akrab pria yang membangun Jongla bersama keempat kawannya, yak ni Arto Boman, Markus Tourunen, Were Oyomno, dan Rauli Priha.

Riku mengisahkan seluruh anggota tim memiliki berbagai ide yang kreatif dan inovatif.Semua ide dituangkan di atas whiteboard hingga penuh dengan coretan tulisan dan gambar.

Langkah pertama ialah pemilihan nama. Riku mengatakan ternyata tidak mudah menentukan nama tersebut. Riku dan empat kerabatnya cukup lama menentukan nama aplikasi yang pendek, tetapi catchy.

“Perlu brainstorming yang cukup rumit dan lama. Akhirnya tercetus kata jongla yang terdengar unik,“ ujarnya. Ruki menyebut jongla itu sendiri berasal dari kata juggling yang berarti bermain bola dengan cara menyenangkan. Langkah berikutnya, kata pria lulusan Hanken School of Economics di Finlandia itu, tim membuat aplikasi yang prinsipnya harus simpel, menyenangkan, dan menarik bagi peng gunanya. Hingga pada 2010, perseroan berhasil meluncurkan aplikasi instant messenger di dunia maya.

Ia menyebutkan sejumlah keunggulan aplikasi Jongla 1.0 dari layanan sejenis. Pertama, stiker yang ditawarkan sudah terlihat interaktif. “Stiker di dalamnya tidak hanya berupa gambar animasi, tetapi juga bisa bergerak, mengeluarkan suara, dan sangat responsif,“ ujarnya dengan kembali bersemangat.

Kedua, stiker yang ada di dalam Jongla bisa mengekspresikan perasaan penggunanya.Ketiga, Jongla menggunakan teknologi yang berdasarkan art technology. Dengan art techno logy, Jongla sedang terus mengembangkan kreativitas dan inovasi stiker yang ada. “Selain itu, Jongla didesain dengan penggunaan data yang kecil, yaitu hanya mencapai 2,6 MB jika di-download pada smartphone,“ papar dia.Pemimpin pasar Dengan keunggulan yang dimiliki, Riku mengungkapkan memiliki target jangka panjang sebagai pemimpin pasar. Target jangka pendek ialah perseroan masuk tiga besar aplikasi instant messenger pada 2015.

Untuk mewujudkan target itu, Jongla bekerja sama dengan PT XL Axiata Tbk dalam hal memberi kemudahan ke pada masyarakat Indonesia un tuk melakukan transaksi konten digital di aplikasi Jongla dengan menggunakan pulsa.Kerja sama itu terkait dengan pembelian stiker yang dapat langsung menggunakan pulsa XL dan penggunaan layanan data paket Jongla.

Di samping itu, perseroan merekrut manajer lokal dan menyerahkan rencana-rencana strategis Jongla di Indonesia kepada sang manajer lokal.Pertimbangannya manajer lokal menguasai pasar domestik.

“Saat ini, kami ingin fokus membangun bisnis, khususnya Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Indonesia dijadikan sebagai negara pertama yang menjadi target pasar. Melalui Jongla, banyak orang dapat tersenyum lewat stiker,“ ujar pria yang memanfaatkan kunjungannya untuk melihat respons anak muda Indonesia terhadap Jongla.Ingin lihat Borobudur Riku mengungkapkan ternyata sudah tiga kali mengunjungi Indonesia. Sayangnya, kunjungannya selama ini hanya untuk keperluan bisnis dan hanya di Jakarta.

“Ini ketiga kalinya saya ke Indonesia, tetapi saya belum ke mana-mana selain di Jakarta,“ sesal pria bertubuh tegap itu.

Pria berkacamata itu pun mengatakan ia ingin sekali mengajak keluarganya berkunjung dan mengeksplorasi keindahan Indonesia di kemudian hari. Ia menyebut ingin berkunjung ke Candi Borobudur.

“Dua minggu yang lalu, saya dan keluarga menonton The Amazing Race dan syutingnya di Indonesia, salah satunya di Candi Borobudur yang sangat indah. Suatu saat saya akan berkunjung ke sana bersama keluarga,“ ujarnya.
Kesan pertama yang didapat Riku saat berkunjung ke Indonesia ialah Jakarta merupakan kota yang penuh kemacetan. Jalanan yang penuh dengan kendaraan sedikit membuatnya shocked di awal kedatangannya.

Akan tetapi, di balik itu, Indonesia dikatakannya memiliki cuaca yang menyenangkan. Ia bisa melihat matahari dari mana saja, tidak seperti di Finlandia. Keramahan orangorang Indonesia dan cita rasa masakan Indonesia yang kaya juga membuat pria kelahiran 1974 itu senang berkunjung ke Indonesia. “Makanan Indonesia enak. Pedas, tetapi tidak terlalu pedas. Saya memang penyuka masakan Asia, khususnya sushi,“ tutur dia. (E-5) Media Indonesia, 10/11/2014, halaman 19

This entry was posted in Berita Teknologi and tagged . Bookmark the permalink.